Hilmi ( Noceur lights )

  RESENSI BUKU NOCEUR LIGHTS

IDENTITAS BUKU

Judul Buku : Noceur Lights

Pengarang : Renita Nozaria

Penerbit : Fantasious

Tahun Terbit : 2019

Kota Terbit : Jakarta

Jumlah Halaman : 380 halaman

ISBN : 978-602-5406-91-1


PENDAHULUAN

Novel “Noceur: Lights (Book 1)” merupakan sebuah karya fiksi fantasi Indonesia yang diterbitkan tahun 2019 oleh penerbit Fantasious. Cerita ini mengeksplorasi dunia makhluk bayangan (serpent) dan manusia, dengan tokoh utama bernama Risa yang ternyata memiliki darah campuran manusia-serpent. 

Tema yang diusung mencakup identitas, perbedaan sosial, kekuatan persahabatan, dan pertarungan antara kekuatan gelap dan terang. Novel ini juga menarik karena menggunakan dialog antar Bahasa.

Dengan setting dunia fantasi lokal dan alur yang penuh konflik supernatural, novel ini menawarkan pengalaman bacaan yang segar bagi pembaca fantasi Indonesia.


ISI RESENSI

Ringkasan Isi Buku

Tokoh utama adalah Risa (atau Trisha Narestria), seorang gadis yang sejak kecil dianggap aneh karena ia suka bicara sendiri, benda-di sekitarnya melayang. Suatu hari, Risa menyadari bahwa dirinya bukan hanya manusia biasa—dia adalah makhluk campuran antara manusia dan serpent, makhluk bayangan yang tercipta dari kesalahan iblis dan malaikat. Kemudian ia dibawa ke sebuah sekolah asrama khusus serpent untuk mengembangkan kemampuan dan mengenali jati dirinya. Ia pun memiliki sahabat, Basil Arnamawa, yang juga makhluk campuran, serta proctor bernama Luka Diwangka, salah satu bangsawan tinggi serpent yang awalnya menaruh dendam terhadap Risa (karena kematian Putri Nedia) tetapi kemudian mulai merasa tertarik kepadanya. 

Di tengah latihannya menghadapi “ujian akhir” sebagai serpent dan menghadapi konflik internal di antara keluarga-keluarga serpent, Risa harus menerima tanggung jawab karena reinkarnasi Putri Nedia menyerahkannya tugas untuk menyatukan bangsa serpent yang terpecah. 

Konflik besarnya muncul ketika kekuatan gelap (makhluk bayangan, okulis) mengancam dunia mereka, dan Risa sebagai “the promised hero” harus menghadapi takdirnya: menyelamatkan dunia bayangan dan menjembatani dua dunia—manusia dan serpent.


Analisis dan Ulasan

Kelebihan novel ini adalah Novel ini menarik dari  dalam dialog novel ini menggunakan code-switching situasional dan metaforis antara bahasa Indonesia dan Inggris untuk menunjukkan status sosial tokoh dan situasi. Ini menambah lapisan realisme sosial dan modernitas dalam setting fantasi dan mengangkat makhluk-serpent dan dunia bayangan yang kurang umum dalam fantasi Indonesia secara mainstream. Pemilihan darah campuran manusia-serpent sebagai identitas tokoh utama memberi dimensi ‘outsider’ yang kuat. 

Kekurangannya adalah Walaupun Risa dan Luka memperoleh cukup sorotan, karakter-karakter pendukung seperti Basil atau Lara (adik Luka) terasa kurang eksplorasi mendalam dalam bagian awal novel (menurut ringkasan). Hal ini bisa menjadi ambil perhatian jika untuk seri berikutnya.


Kutipan Penting

“Semua yang lo lihat … lilin-lilin melayang itu menurut lo, itu semua bisa diterima logika?” (Dialog karakter Nadine) menekankan bahwa dunia fantasi ini mengajak pembaca mempertanyakan realitas dan logika biasa. 

“Technically, you’re a royal now.” (Dialog karakter Danzel) mencerminkan perubahan status sosial Risa dari outsider menjadi bangsawan serpent.

Kutipan-kutipan ini menggarisbawahi tema inti: identitas, beban takdir, dan ketegangan antara logika manusia dengan unsur supranatural.


PENUTUP

“Noceur: Lights (Book 1)” oleh Renita Nozaria adalah karya fantasi remaja Indonesia yang cukup layak dibaca, terutama bagi pembaca yang tertarik dengan tema makhluk supernatural, identitas ganda, dan dunia fantasi yang dibangun secara lokal. Novel ini menawarkan karakter utama yang emosional, konflik yang memikat, serta setting yang cukup unik dibandingkan banyak novel fantasi lokal yang lebih umum.

Di sisi lain, kompleksitas dunia dan latar belakangnya mengharuskan pembaca untuk memperhatikan detail, dan beberapa elemen terasa familiar bagi yang sudah sering membaca genre ini. Namun kelemahan tersebut tidak terlalu mengurangi daya tarik utamanya.

Jika diurangkan, novel ini memiliki nilai lebih pada kreativitas tema dan eksekusi yang cukup baik, dengan sedikit ruang untuk pengembangan lebih lanjut di seri berikutnya. 


IDENTITAS PERESENSI

Nama : Hilmi Achmad Fahrezi

Kelas : XI.I

Asal sekolah : SMA Martia Bhakti 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nafisa ( merayakan kesedihan )

Raisya ( Twenty-Four Eyes)

Maurine ( Cantik Itu Luka)